ads
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tasya Sayang Mama

Written By Unknown on Feb 24, 2012 | 5:26 PM










Taly
Mama. :') http://infotips-rama.blogspot.com






  Namaku Tasya, aku sekarang masih TK nol besar. Aku adalah anak satu-satunya dari orang tauku. Aku memiliki mama yang sangat sayang sekali kepadaku. Aku juga memiliki papa, tapi aku tidak tahu papa ada dimana sekarang.
  Mama sehari-hari bekerja di kantor sampai sore. Aku kadang kesepian di rumah karena tidak memiliki teman. Di sekitar rumah tidak banyak anak kecil seumuranku. Ah, rasanya setiap hari bagiku adalah lama sekali untuk menunggu mama pulang. Hari ini, adalah Senin yang sibuk. Mama pagi-pagi sudah bersiap-siap bekerja dan aku pun juga begitu. Setelah sholat Shubuh, aku belajar mempersiapkan kebutuhan sekolahku sendiri. Mama memang selalu mengajariku hidup mandiri.
  Setiap hari mama mengantarkan aku sampai pintu gerbang sekolah dan menciumku dengan hangat. Ah, betapa senangnya punya mama. Dia sangat sayang aku. Tapi kalau sudah siang, biasanya aku pulang dengan pak No tukang becak langgananku.
"Tasya, aku pulang dulu ya." sahabatku Khansa, menepuk pundakku sambil berpamitan pulang. Dia kelihatan bahagia sekali karena ayahnya sudah menunggu dari tadi di parkiran.
"Iya" aku menjawab dengan lesu. Kemudian aku menyandarkan tubuhku di pagar sekolah. Capek sekali rasanya hari ini. Bu guru banyak memberikan tugas untuk dikerjakan dirumah.

  Ya Allah, kok tiba-tiba aku jadi bersedih. Aku ingin sekali pulang di jemput ayah, seperti teman-temanku yang lain. Selama ini, ayah belum pernah sekalipun menjemputku. Aku benar-benar ingin sekali. Tapi, yang aku tahu, mama akan selalu menangis saat aku bertanya tentang ayah. Yang aku tahu juga, mama juga akan langsung memelukku dan berkata, "Ayah sudah bersama Allah, sayang."
  Aku sempat bertanya, "Ayah salah apa sampai harus dimiliki Allah saja, Mama? Adik kan juga ingin bertemu ayah. Apa ayah nggak sayang sama adik ya, Ma?" Tapi selalu mama lebih banyak diam dengan pertanyaanku itu. Dan yang aku tahu, mama aka tambah menangis kalau aku sudah bilang begitu. Dan akhirnya aku hanya lebih banyak diam dan hanya menyimpan kerinduanku kepada ayah di dalam hati saja.
  Suatu malam aku berpikir, kenapa Allah tidak mengijinkan aku melihat ayah. Padahal aku hanya akan bilang kepada ayah kalau aku sayang ayah, dan aku hanya ingin bermain sebentar dengan ayah. Itu saja. Lalu aku ingat, ibu guru pernah berpesan kalau Allah itu selalu akan mengabulkan doa kita. Aku pun kemudian mengangkat tanganku dan meminta kepada Allah, agar aku bertemu ayah.
Keesokan harinya...


  Hari ini aku senang sekali, mama tidak pergi ke kantor. Mama bilang, kami akan berkunjung ke tempat tante dokter. Katanya mama biar aku lekas sehat. Loh, Memang aku sakit ya? Setelah sampai di tempat, aku pun diperiksa. Dan beberapa menit kemudian, mama menyuruhku untuk duduk sebentar di depan bersama tante perawat. Tapi, aku masih penasaran, aku pun mencoba membuka pintu dan aku mendengar bu dokter bilang, "Saya rasa tidak lebih dari sebulan..."
  Aku sempat bingung saat tiba-tiba mama keluar dari ruangan tante dokter. Mama terlihat menangis dan memelukku erat. Sungguh sangat erat. Aku bertanya "Mama kenapa?" Mama tidak menjawab apa-apa. Mama hanya menangis dan menangis. Ya, Allah, apa tante dokter itu orang jahat? Kok dia buat mamaku menangis lagi. Aku buru-buru menutup pintu itu.
  Setelah di mobil aku bertanya, "Mama, kok Mama menangis terus?" "Tidak apa-apa, Sayang. Mama baik-baik saja." Jawab mama sembari tersenyum meski terlihat dipaksakan. "Ma, le.Jeukimia itu apa?" tanyaku.
  Mama tiba-tiba menghentikan mobil dan memandangku. Agak lama mama memandangku,
sebelum akhirnya tersenyum sembari berujar, "Itu nama musuh kita, sayang."
"Dia jahat ya, Ma? Kitaajak ke rumah saja, Ma biar nanti aku ajak main. Aku bag! mainan deh. Pasti dia nggak jahat lagi." Mama tidak menjawab apapun dan terus melanjutkan perjalanan pulang.
Sudah tiga hari ini aku tidak masuk sekolah. Dan suatu malam, tiba-tiba badanku menggigil dan cairan putih keluar dari hidungku. Mama memelukku erat. Tapi, entah kenapa makin lama aku makin susah bernafas.
 "Mama, kenapa mama menangis terus?" tanyaku padamama.
 "Sudah. adik istirahatsaja ya, Sayang."
 "Mama saja dulu. adik baik-baik saja kok. Ma, apa benar kalau ayah sudah bersama Allah?" tanyaku pada mama yang berkaca-kaca.
 Mama tidak menjawab pertanyaanku, hanya mengelus kepalaku sambil tetap menangis.
 "adik kangen sama ayah. Dulu adik sudah minta sama Allah, adik ingin bertemu dengan Ayah. Tapi, nanti mama bagaimana ya? Nanti mama tidak ada yang menemani. Mama jangan sedih, ya?" kataku sambil tersenyum dan terus memandang wajah mama yang tampak makin menua.
 "Jangan tinggalkan mama ya, Dek. Mama akan selalu menemani adik, mama janji." Isyak mama makin deras.
 "Tapi, adik ingin bertemu ayah sebentar, Ma. Mama jangan khawatir, adik dan ayah akan selalu menemani mama."
  Mama tersenyum dan mengusap air matanya. Dan entah mengapa tiba-tiba, aku merasa pandanganku tambah kabur dan gelap.
 "Ma, apa mama ingin menyampaikan sesuatu untuk Allah?" kembali aku bertanya. Tapi, anehnya aku tak mendengar sedikit pun jawaban dari mama. Sementara, mata ini makin nanar. Kabur. Bahkan, seperti terasa gelap.
 "lya, Sayang. Sampaikan pada Allah, semoga memberikan tempat yang cantik untuk putri mama yang cantik." jawab mama sambil terisak.
 "Nanti Tasya akan bilang sama Allah biar kita semua, bisa berkumpul di surganya Allah yang indah. Tasya juga mau bilang sama Allah biar mama nggak diminta kerja lagi di surga. Jadi, mama bisa temani Tasya tiap hari. Ya, Ma?" "lya, Sayang."
 "Mama ...kok semua makin gelap. adik tak bisa melihat wajah mama yang teduh. Ma,
Tasya sayang Mama....."

5

Inikah Cinta?

Written By Ramadhan Fnw on Jan 26, 2012 | 3:44 PM


Inikah Cinta? by: Firdauzi Azzahra

            “untuk apa kau mempedulikannya ?! ia saja tak pernah mempedulikan perasaanmu” , “untuk apa kau memikirkannya ?! ia saja tak pernah memikirkanmu” , untuk apa kau mengingatnya ?! ia saja sudah lupa padamu”
            itulah beberapa kalimat yang selalu mereka ucapkan ketika aku mulai bercerita tentang keluhan hatiku akan dirinya, dirinya yang kini meninggalkanku dengan tidak adanya rasa bersalah sedikitpun dalam hatinya, dia yang selalu menjadi penyebab tangisku setiap malam.
            Ya, dia mantanku! Mantanku yang sampai saat ini masih sangat kucintai, yang sampai saat ini masih kuharapkan kehadirannya kembali untuk mengisi hidupku.
            Bukankah aku terlihat sangat bodoh, mencintai orang yang sudah mengabaikanku, menganggapku tak ada, dan selalu menjadi penyebab tangisku? Tapi aku tak peduli! Aku tak peduli dengan rasa sakitku, aku tak peduli dengan apa yang ia lakukan padaku, aku hanya ingin dia kembali !
            terkadang aku berpikir, tak pernahkah sekalipun ia merindukan saat-saat indah yang pernah kita lalui? Saat dimana kita bisa tertawa bersama , menari bersama hujan, saat kau menggenggam erat tanganku.
            Tuhan…. Aku merindukannya, sungguh aku merindukannya, merindukan ia yang bahkan hampir setiap hari kutemui.
            Kini ku hanya bisa memperhatikan tingkahnya dari kejauhan, menikmati senyumnya dari jarak yang cukup jauh dari bangkuku. Seandainya dia tau, aku selalu menyelipkan namanya dalam setiap doaku, aku selalu berdoa agar Tuhan selalu menjaganya, melidunginya, seperti saat ia melindungiku dari derasnya hujan sore itu dengan jaket hitamnya.
            Tak ada lagi orang yang bisa ku panggil “sayang”, tak ada lagi orang yang menghapus air mataku ketika ku menangis, tak ada lagi orang yang setiap pagi harus kubangunkan walau hanya melalui pesan singkat, tak ada lagi orang yang suka mencubit pipiku, tak ada lagi orang yang harus kuperingatkan makan dan sholat, tak ada lagi orang yang menemaniku bersepeda ketika berangkat dan pulang sekolah, tak ada lagi orang yang suka mencoret-coret bukuku dengan tulisan “I love firda!”
            Mudah bagiku untuk melupakanmu, tapi sangat sulit melupakan semua kenangan indah yang pernah kita lalui.
            Ingin sekali aku mengatakan ini padanya, “masih ingatkah kau saat kau berkata bahwa masa pacaran yang paling lama untukmu hanya 4 bulan? Kau tau apa yang kupikirkan saat itu? Aku bertekad dalam hati ingin menjaga hubungan ini, setidaknya sampai 4 bulan. Tapi ternyata baru 2 bulan lebih 23 hari, kau memutuskan untuk berpisah. Ternyata aku kau anggap sama seperti mantan-mantanmu! hanya kau permainkan, lalu kau tinggalkan begitu saja! Sebenarnya dimana letak hatimu? Atau kau memang sudah tak mempunyai hati?”
            Aku bingung dengannya, dulu ia begitu memujaku, selalu menghargai perasaanku, selalu memberiku perhatian. Memang semua akan berubah seiring berjalannya waktu, begitu pula dengan perasaan manusia, aku pahami itu. Tapi ia cepat sekali berubah! Ia bilang ia mencintaiku, ia bilang ia akan menggenggam rasa cintanya sampai akhir menutup mata, ia bilang ia akan…… ah sudahlah, terlalu banyak kata-kata indah yang ia ungkapkan padaku, ia memang terlalu mudah bicara cinta, tapi tak pernah bisa membuktikannya.
            Dan disinilah letak kebodohanku, aku tau ia begitu padaku, aku tau ia tak pernah peduli dengan perasaanku, aku tau ia tak pernah menganggapku ada, aku tau ia selalu mengabaikanku, tapi aku tetap tak bisa melupakannya, apalagi mengusirnya pergi dari hatiku.
            Tapi aku percaya suatu hari nanti aku bisa melupakan sosoknya dari benakku, meskipun aku tak tau kapan, dan meskipun itu akan sangat sulit kulakukan. Aku pun yakin aku bisa bahagia tanpanya, aku bisa bahagia dengan caraku sendiri :’)


Ibu

Written By Ramadhan Fnw on Jan 23, 2012 | 8:47 PM


IBU karya: Dimas Fendy


  Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang menurutku luar biasa.Dia adalah sosok pahlawan dalam hidupku.Sudah 17 tahun lamanya aku dilahirkan ke dunia ini.Sekarang aku duduk di bangku SMA.Aku hanya tinggal bersama ibuku.Ayah,kakak,dan adikku tewas dalam teragedi yang mengenaskan saat terjadi gempa bumi beberapa tahun silam.Dunia ini begitu kelam dan liar,tapi tidak jika aku dalam pelukan dan dekapan hangat dari ibuku.Aku merasa nyaman jika berada di samping ibuku.Dialah yang satu-satunya dalam hidupku.Dialah tempat bersandarku.Senyum manis dari wajahnya membuatku nyaman berada di dekapan ibuku.Dia juga yang telah menanamkan nilai-nilai dan arti kehidupan dalam diriku agar aku bisa memahami makna kehidupan yang sesungguhnya.
  Aku patut bersyukur atas keadaanku yang sekarang ini.Banyak anak-anak lain yang tidak seberuntung diriku.Bahagia tiada terhenti jika sesaat aku terpikirkan oleh hal itu.
Aku mulai tumbuh kearah kedewasaan seiring dengan bertambahnya usiaku.Segelintir penyesalan tak kunjung berhenti di dalam benakku.Rasa cintaku kepada ibuku seakan luntur diguyur hujan seiring berjalannya waktu.Seakan diriku mulai menjauh dari dekapan seorang ibuku.Sesal hati ibuku hanya bisa menerima kenyataan itu dalam hati.
  Lambat laun,sikapku mulai melebihi ambang batas.Aku mulai berpikiran “Ah masa bodoh dengan orang tua itu”.Kata-kata yang terdengar menyakitkan begitu saja terlontar dari mulutku.Apalagi jika yang mendengar kata-kata itu adalah ibuku sendiri.Terbayang jika aku menjadi ibuku,rasa sakit yang tak tertahankan dan menyakitkan.Rasa yang takkan pernah mungkin lenyap begitu saja dari hati ibuku.Tapi semua itu telah sia-sia ibarat “nasi telah menjadi bubur”.
  Pergaulanku semakin tidak karuan.Benteng iman yang dulu kokoh menopang diriku telah rapuh bahkan hancur.Nilai-nilai iman yang dulu dipupuk dan ditanamkan ibuku kepada diriku telah layu sudah.Tidak heran , pergaulanku melenceng jauh dan tak dapat dihentikan lagi.
“aku salah memilih teman”
Aku bergaul dengan anak-anak orang kaya,sehingga kebiasaanku pun tak jauh berbeda dari mereka.Padahal aku hanya berada di kalangan keluarga yang SERBA pas-pasaan.Seakan masalah itu tak lagi aku pikirkan dalam benakku.
“merokok,berjudi,minum2an keras,seakan sudah menjadi kebiasaanku yang sekarang”
Melihat kelakuanku yang semakin keterlaluan itu,ibuku hanya bisa pasrah dan berdoa pada Yang Maha Kuasa.Tak henti-henti lantunan doa yang terderang dari mulutnya berdoa hanya untuk kesadaranku.
“diriku tak kunjung berubah”
  Hari demi hari dilewati ibuku diselimuti kesedihan.Tak ada lagi yang mengisi kekosongannya.Lukisan di sudut ruangan seakan tertawa lebar melihat penderitaan ibuku.Detak jam dinding menambah suasana pilu.Aku jadi jarang pulang kerumah karena asik dengan duniaku sendiri.Tak lagi memperhatikan nasib ibuku di rumah sendiri.Pasti hampa dan sepi yang dirasakan ibuku pada saat itu.
“tak henti-hentinya ibuku berdoa”
  Seminggu sudah hariku kulewati tanpa berada di samping ibunda tercinta.Entah bagaimana keadaan ibuku sekarang,tak terpikirkan lagi di pikiranku.
Jum’at malam aku mencoba mengunjungi rumah ibuku.Sesampainya di teras depan rumah,hawa dingin dan sepi menerpa tubuhku.
“rumah ibu terlihat kosong dan sepi”
  Kuberanikan diriku untuk mengetuk pintu yang sudah kelihatan lusuh itu..”tok tok tok” terdengar nyaring dalam telingaku.Pintu itu terbuka perlahan demi perlahan.setelah pintu terbuka semua,kudapati sosok wanita tua duduk di kursi pojok sambil memandangi foto dan di sampingnya ada secangkir susu.
“betapa terkejut hati ini”
  Saat yang kudapati itu adalah ibuku sendiri sambil membawa fotoku.Diriku terdiam,tepaku di depan pintu.Hawa dingin kembali menerpa tubuhku yang terpaku di depan pintu.Tidak kuduga dan tidak kusangka tubuhnya kurus kering,mukanya pucat pasi,sangat jauh berbeda dari yang dulu.
  Perlahan ibuku menoleh ke arahku,tersenyum manis kepadaku lalu berkata “kamu sudah pulang ya nak,,ini ibu buatkan susu hangat untukmu”.Begitu polos terdengar
“aku tak bisa berkata “
Melihat hal itu aku segera berlari meninggalkan rumah tua itu.Air mata terus mengucur selama perjalan.
“resah,bingung,sedih,itulah yang kurasakan saat itu”
  Selang 2 hari,aku mecoba untuk kembali mendatangi rumah itu,Aku sengaja mengajak sekalian teman-temanku agar mereka semua tahu yang sesungguhnya.
“sebelumnya firasatku tidak enak”
  Sesampainya gang menuju ke rumah ibuku,dari kejauhan terlihat kerumunan mengerumuni rumah ibuku,APAKAH YANG TERJADI………??????
Firasatku semakin tidak enak.Bergegas aku berlari menuju kediaman ibuku.Tetangga2 yang berada disitu heran melihatku,wajah mereka seakan benci kepadaku.Sesampainya di ruang tamu,kudapati ibuku sudah terbaring lemas tak bernyawa diselimuti kain jarik yang dulu sering kupakai mainan.Hancur dan remuk hatiku melihat ibuku sudah tak bernyawa.
“aku menjerit sekeras-kerasnya,aku menangis tak henti-hentinya”
Aku belum sempat mengucapkan kata “maaf” kepada ibuku.SUDAH TERLANJUR SEMUA……….
Seketika aku dekap dan aku peluk erat tubuh ibuku,hanya dingin yang kurasakan tak ada lagi kehangatan.Sirna sudah harapan ini,isak tangis kerabat membuat suasana itu semakin menyedihkan,menyakitkan,serta mengerikan untuk dilihat
“ibu,,,,maafkan aku,,,aku telah tega terhadap ibu,,aku telah menjadi anak durhaka,,bahkan ibu ,aku belum sempat mengucapkan kata MAAF kepada ibu”
  Kata-kata itulah yang mengiringi ibuku ke tempat peristirahatanya yang terahkir.
Setelah pemakaman jenazah ibuku selesai,,,aku berdiam diri diatas makam ibuku,,termenung sendiri.Entah apa yang terjadi setelah pemakam selesai,hujan lebat mengguyur.Hujan itu seakan menandakan ibu ku bersedih di alam sana jika aku tidak merelakannya pergi…..
Apalah daya diriku sekarang ini,PENGORBANAN IBUKU berahkir sia-sia di tangan ku..
“aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri”
Kini hidupku kian sepi setelah kepergian ibunda tercinta.Merubah sikap dan perbaiki diri.Tak lupa juga kudoakan selalu agar arwah ibuku bisa berada di tempat yang paling mulia di sisi-MU……….

Karya
Nama : Dimas Fendy P



Lemah Karna Cinta Part 2

Written By Ramadhan Fnw on Jan 15, 2012 | 8:15 PM

Lemah Karna Cinta part 2 by Ramadhan Fnw

  Jodoh memang tak kemana, sudah beberapa tahun lamanya Merly dan Rama tidak berjumpa akhirnya mereka bertemu lagi. Pertemuan mereka berawal saat Rama sudah menjadi dosen muda di tempat kuliah Merly. Disitu kebetulan juga Rama mengajar kelas Merly. Disitulah cerita baru mereka dimulai, seorang mahasiswi yang naksir dosennya. Sekarang bukanlah Rama yang mencari kesempatan untuk pandangi wajah Merly, justru kini sebaliknya. Merly lah yang sering mencuri waktu untuk pandangi wajah Rama.
  Hari Sabtu, karna ada event tertentu para mahasiswa pulang lebih awal. Disitulah Merly mendapat kesempatan ngobrol dengan Rama. Merly mengajak ketemuan Rama di tepi danau. Rama menerima tawaran Merly.
 "Hey Ram? Kenapa kamu pergi dulu? :(" Merly
 "Aku takut." Rama
 "Takut?? Takut apa?"
 "Aku takut harapku ini membesar. Kamu tau kan aku sayang kamu?" Rama menjawab dingin
 "Hmmm. :("
  Hening.. Mereka tidak berbicara apa-apa lagi. Matahari kian mulai terbenam. Rama berdiri hendak beranjak. Namun tidak jadi pergi karna seketika tangan Merly menggenggam tangannya. Rama pun seketika itu juga menoleh ke wajah Merly.
 "Mari pulang, sudah sore. Nanti ortumu panik." Rama
 "Egak." Dengan sedikit berteriak, Merly menolak ajakan Rama.
 "Aku gak mau pulang, sebelum kamu bisa maafin aku. :( " Merly memohon lagi.
 "Udah aku maafin, ayo pulang" Rama
 "Hmm, aku mau kamu jujur." Merly
 "Jujur, aku masih suka kamu." Rama
 "Hmmm. :') "
  Rama pun segera menggandeng tangan Merly, menuntunnya pulang. Didalam perjalanan mereka hanya berdiam saja. Tapi dalam hati Merly bahagia, karna masih ada kesempatan untuknya. Mereka berpisah di depan rumah Merly. Tapi tangan Merly masih erat menggenggam tangan Rama. Rama menatap mata Merly dan berkata.
 "Hmm, gimana aku bisa pulang? :) "
 "Hmm, aku masih pengen ketemu kamu." Merly memohon.
 "Ini udah gelap, besok kan masih bisa" Rama
 "Hmm, besok aku tunggu lagi kamu di tepi danau tadi. Pukul 4 sore. Aku masih kangen kamu. :)" Merly
 "Ok lah. Cepet masuk diluar dingin." Rama
 "Thanks. Bye Ram. :)" Merly lalu masuk ke rumah.
  Kini tinggal Rama berjalan sendirian menuju rumah. Dalam perjalanannya ia berpikir akan datang atau tidak besok. Namun ia juga masih kangen dengan Merly, meski hatinya masih agak ragu dengan kata-kata Merly tadi. Rama memutuskan untuk datang.
Esok hari, Rama sudah bersiap untuk menemui Merly di tepi danau. Namun, saat Rama mau pergi ke danau, tiba-tiba ia dapat tugas mendadak. Terpaksa Rama menunda kedatangannya. Ternyata tugasnya tidak lah sebentar, Rama baru bisa menyelesaikannya saat jam sudah menunjukkan pukul 17.30 dan saat itu hujan. Ia teringat janjinya, meski sudah telat satu setengah jam Rama tetap pergi ke tepi danau. Sampai disana, ia melihat Merly masih menunggunya. Segera lah Rama berlari menghampiri Merly.
 "Mer, kenapa kamu masih disini? Nanti kamu sakit kehujanan." Rama cemas.
 "Aku sayang kamu, aku pengen ketemu kamu. :)" Merly berkata sambil menggigil kedinginan.
 "Maaf, tadi ada tugas mendadak. :( Tapi kok kamu gak pulang aja, kalo tau aku datangnya telat?" Rama menyesal datang telat.
 "Aku kan udah bilang, aku kangen pengen ketemu kamu." Merly
 "Maaf ya, :( . Ayo aku anter pulang aja, hujannya makin deras nanti. :(" Rama membujuk Merly pulang.
 "Tapi kan kamu baru dateng, masak langsung ngajak pulang. :( " Merly sedih.
 "Nanti kamu sakit gimana? Kamu udah lama juga disini. :(" Rama
 "Egak, aku pengen ngobrol-ngobrol dulu sama kamu." Merly memaksa.
 "Kamu mau ngobrol? Nanti aja dirumahmu. Ini udah mau maghrib juga. Hujannya makin deras lagi" Rama membujuk Merly lagi.
 "Hmm, bener ya? :) " Merly
 "Oke." Rama
  Akhirnya mereka berdua pulang. Namun sebelum mereka beranjak pergi Rama memakaikan jaketnya ke tubuh Merly yang menggigil kedinginan. Motor Rama pun melesat menuju rumah Merly di tengah guyuran hujan. Sampai dirumah Merly ternyata hanya adik dan kakaknya Merly. Rama meminta ijin menemani Merly. Mereka duduk diteras rumah Merly. Rama juga minta ijin mengambil handuk untuk Merly. Lalu mengeringkan tubuh Merly. Rama benar-benar merasa bersalah saat itu.
 "Ram, aku sayang kamu. :* " Untuk kesekian kalinya Merly berkata itu.
 "Iyaa, aku juga sayang kamu :') " Dengan merasa bersalah Rama menjawabnya.
 "Tapi jangan nekat lagi besok. :( " Rama memohon.
 "Iya, tapi kamu harus maafin perbuatan ku dulu dan percaya sama aku ya." Merly.
 "Udah aku maafin kok. Tapi percaya untuk apa? :/ " Rama
 "Percaya kalo aku sayang kamu. :) " Merly.
 "Aku bakal percaya sama kamu. Asal kamu janji, kamu gak akan ngelakuin yang kamu lakuin dulu. :') " Rama menjawab. Ia bahagia mendengar kata-kata Merly barusan.
 "Iya, aku janji. Maaf deh, dulu aku nyakitin kamu. :( " Merly menyesal perbuatannya dulu.
 "Sipp, :) Sekarang kamu masuk gih. Udah malem juga, nanti makin kedinginan kamu. :) " Rama.
 "Iya deh sayang :* :D " Jawab Merly genit.
 " :D cepet ganti baju juga, nanti kamu sakit lagi. :) Aku pulang dulu ya, udah malem." Rama tersenyum.
 " Iya deh, :) Oke,, hati-hati dijalan ya say? :D :* " Merly.
 " Iya-iya. :)" Rama tersenyum malu. Tapi pastinya ia bahagia.

  Berakhirlah penderitaan Rama, kini ia sudah bisa mendapatkan kasih sayang Merly lagi. Namun hati Rama pun masih berjaga, karna ia takut kejadian yang dulu terulang lagi. Ia tidak ingin kehilangan Merly lagi, ia sungguh menyanyanginya. Namun untung kini hati Merly pun sudah berubah, kini ia juga sungguh sayang Rama. Merly pun juga tak ingin kehilangan Rama lagi. Dan bahagialah mereka berdua, meski awalnya mereka terluka...


End..


Lemah Karna Cinta

Written By Ramadhan Fnw on Jan 11, 2012 | 5:37 AM

Lemah Karna Cinta by Ramadhan Fnw

  Rama, siswa kelas 3 SMP ini sudah mulai terlihat gelagatnya. Yang bisa dibilang mau tapi malu. Mau untuk mendapatkan hati cewek yang diidamkannya. Tapi malu akan kekurangannya. Ia lebih suka perhatian dan ngobrol dengan Merly (teman sekelas yang dia taksir) melalui SMS. Ia tak pernah berani mengajak cewek ngobrol apalagi Merly yang ditaksirnya. Namun hampir tiap kesempatan mereka saling ber-SMSan. Rama seperti mendapat respon positif dari Merli. Namun entah respon sebagai sahabat atau pacar seperti yang diharapkannya.
  Sudah dua tahun lebih mereka berteman. Namun baru sekarang terlihat benih cinta yang sudah mekar dihati Rama. Apalagi Merly orangnya lucu, cantik, baik pula. Tlah lama Rama memendam rasanya dan selama itu pula ia mencoba untuk tetap bersikap biasa. Tapi tidak bisa, ia selalu saja salting bila didekat Merly.
  Hari Senin, kegiatan rutin upacara bendera di sekolah. Semua siswa telah bersiap dilapangan begitupun Rama.


 "arg, upacara lagi!! Bisa gosong nih, dijemur trus tiap Minggu.!" Gerutu Rama
 "haha, sabar.. Cuma sebentar juga.! :) " respon Merly mendengar keluhan Rama.
 "hehe, iya.!" Jawab Rama. Malu


  Obrolan mereka pun berlanjut sampai saat jam istirahat. Merly menghampiri Rama yang tengah duduk-duduk didepan kelas dan mengawali percakapan mereka.


 "hey, egak ke kantin?" sapa Merly sambil duduk disamping Rama.
 "males. hehe. kamu juga gak ke kantin? tuh temen-temen pada kesana?" Jawab Rama sedikit kaget.
 "ih. jadi ngusir nih" canda Merly.
 "eh, egak-egak.. siapa yang ngusir?" Rama
 "hehe" Merly tertawa kecil. Rama hanya tersenyum, seolah mengerti candaan Merly.


 "teeett.teeettt..tteeeettt" bunyi bel memecah lamunan mereka.


 "yaahh, udah masuk lagi!" keluh Merly
 "emang kenapa?" Rama
 "aku masih pengen ngobrol, hehe" Merly menjawab sambil tersenyum.
 "owh, haha. kapan-kapan kan masih bisa" Jawab Rama
 "oke deh" Merly menjawab sambil mengerdipkan mata.
 Rama hanya tersenyum, sambil menahan gemasnya wajah Merly.


 "hm, andai saja kau tau Mer!" Rama berharap pelan.
 "tau apa?" Merly tidak sengaja mendengar.
 "ehh, egak apa-apa. ayo masuk, bu guru udah dekat tuh" Rama kaget, Merly mendengar ucapannya.
Merly tersenyum kepada Rama sembari masuk kelas. Rama pun menyusul sambil mengelus dada, lega.


  Hari-hari pun berjalan seperti biasa. Setiap ada kesempatan Rama selalu saja pandangi wajah Merly. Namun entah mengapa mereka sudah jarang berSMSan. Tidak seperti dulu. Mungkin karna Merly sudah punya cowok jadi Rama tidak mau mengganggu hubungan mereka. Namun, suatu malam muncul keberanian Rama untuk SMS.


 "malem Mer?" Rama memulai SMS.
 "malem juga. ada apa Ram? :)" Merly
 "gak papa, cuma nyari temen aja. ^^ aku ganggu gak nih?" Rama
 "Owh,, egak. santai aja. :)" Merly
 "sipp deh,, lagi apa kamu? :)" Rama
 "lagi dengerin musik nih, hehe. kamu? " Merly
 "lagi bikin puisi nih,, mau lihat? :) " Rama
 "mau,mau, mau,, hehe" Merly
 "Senyummu memikat mempesona
  Terkesima kau buat ku tak berdaya
  Ingin kupndangi lagi wajah manismu
  Aku larut dalam pesonamu
  Gemuruh cinta didalam dada
Pecah hening malam olehnya
Merenung kudengar suara
Tak tertahan getaran jiwa
Sejenak ku berhenti, ku dengar
Suara indah lentik memainkan gitar
Semakin ingin ku milikimu
Sadar ku tak pantas denganmu"
 "wew, bagus banget Ram. ;D btw buat siapa itu?" Merly.
 "kamu" Rama
 "aku :/ " Merly bingung.
 "iya, jujur aku suka kamu dari dulu. Tapi baru sekarang aku bisa berani ungkapinnya. :)"
 "kenapa baru sekarang, kenapa gak dulu aja? :') " Merly
 "gakpapa, aku gak berharap lebih kok. aku cuman pengen ngungkapin aja. apalagi kan sekarang kamu udah punya cowok. :)" Rama
 "kamu tau? dulu aku juga suka kamu. :') " Merly
 "ahh, yang bener? :) trus sekarang" Rama semakin berdebar.
 "jujur sulit aku ngelupain rasaku. :) ya meski sekarang aku sudah punya cowok. :') " Merly
 "sudahlah :'D sekarang kan kamu juga udah punya cowok. baik, pinter pula tuh. kenapa masih cemberut. :)" Rama
 "ada masalah. :'( " Merly


  Merly pun curhat blakblakan masalah cowoknya dan hubungannya yang mulai rapuh. Rama pun dengan antusias langsung mencari solusi yang terbaik. Kini Rama sudah berani memberi perhatian lebih pada Merly.
  Esoknya setelah kejadian itu. Tidak canggung lagi mereka saling berkata "suka". Dan mungkin hari itu pun menjadi satu hari terindah yang pernah di alami Rama. Tidak bisa disembunyikan lagi kebahagiaan yang melanda Rama kala itu. Rama pun kian sabar menunggu tanpa mengganggu hubungan Merly. Ia merasa punya banyak peluang mendapatkan hatinya Merly.
  Namun sayang, setelah hari terindah itu, hari terburuk pun datang. Seolah tak punya hati Merly seakan mempermainkan hati Rama. Ia berganti cowok dengan gampangnya, lalu kerap mengumbar kemesraannya di depan Rama. Entah sengaja atau tidak, tapi yang pasti hati Rama hancur saat itu.
  Di sekolah, saat jam istirahat. Seperti biasa, Rama hanya duduk-duduk didepan kelas. Ia menggalau karna kejadian itu. Memang Rama tidak menunjukkan kesedihannya, tapi karna itulah bebannya bertambah semakin berat. Dan semakin kerap pula batin Rama menangis.


 "hey Ram?" tanpa sadar Merly sudah dihadapannya. Menyapa dengan senyum andalan.
 "sori aku mau ke toilet dulu" jawab Rama singkat, lalu pergi tanpa sedikit pun memandang Merly
 "hm, kamu kenapa? :( " Merly bingung.


  Rama tidak menjawab, ia meneruskan langkahnya menuju kamar mandi di sekolah. Ia membasuh muka, lalu membulatkan tekadnya untuk mulai melupakan Merly sekaligus membencinya. Tapi ia masih berfikir. Disetiap lamunannya ia bertanya.
 "hm, kenapa dia berkata begitu? apa dia hanya ingin aku sakit? memang aku tidak sempurna dari cowoknya, tapi aku masih punya hati. aku masih punya perasaan. arrggk. aku lemah karna cinta. T.T "


  Meski niatnya untuk membenci Merly, tapi terkadang Rama masih merindukannya. Senyumnya, perhatiannya, sapaanya. Semakin Rama mencoba membenci, semakin besar pula rasa rindunya pada Merly. Terkadang pula setiap getar SMS yang masuk, Rama selalu berharap itu dari Merly. Tapi tak pernah sekali pun Merly SMS. Kecewa..


 "Ia fikir, hanya dia yang terbaik? Mungkin benar wajahnya cantik, tapi sayang hatinya tidak. Seolah dia paling bisa, mencuri hati lalu mempermainkannya dan pergi begitu saja tanpa berfikir luka yang ditinggalkannya" Rama menggalau lagi.


Hingga suatu hari ada SMS masuk dari Merly.


 "Ram, maafin aku. :'( " Merly
 "Ya" Singkat jawaban dari Rama.
 "hm, beneran? :'(" Merly


  Rama tidak menjawabnya, justru ia segera mengganti nomor HPnya sebagai salah satu cara menjauhi Merly. Untung lah, sebentar lagi lulusan jadi Rama tidak akan berjumpa Merly lagi.
  Hari ini, perpisahan murid kelas 3. Hari terakhir Rama melihat teman-temannya juga Merly. Tapi masih saja Merly mengumbar kemesraannya di depannya, seolah tak punya hati.
 "apa kau ingat?" katamu yang dulu indah, tapi sayang itu menyiksaku" Rama mengeluh dalam batin


  Dan sekarang, telah lega hati Rama. Karna dia tlah pergi keluar kota untuk melanjutkan sekolahnya. Rama tinggal di rumah bibinya.
2 tahun tlah berlalu, muncul rasa rindu dihati Rama. Ingin sekali dia bertemu teman-teman tak terkecuali Merly. Tapi hati Rama masih terluka. Lalu ia memutuska bertemu salah satu sahabatnya saja. Ia ketemuan dikafe.


 "hei Yud? Sudah lama yaa, gak ketemu? udah berubah kamu sekarang?" Rama mengawali percakapan.
 "haha, kamu juga berubah Ram. emm, tapi kenapa kamu gak mau ketemu temen-temen lain? mereka kangen kamu lho. apalagi Merly, sering tanya tentang kamu" Yudi bingung.
 "gakpapa, males aja kalo rame. hehe.. halah,, ngapain Merly nanyain aku? haha" Rama mengelak.
 "bener, dia nanyain kamu terus!" Yudi
 "owh, yaudah. hahaa" Rama mengalihkan.
 "hmm, trus gimana sekolahmu sekarang?" Yudi tanya.
 "lumayan deh, banyak kenalan yang baik-baik,, kamu?" Rama tanya balik.
 ( .......... )
  Cukup lama mereka saling ngobrol. Tanpa sengaja saat Rama keluar dari kafe, dia bertemu Merly. Spontan saja Rama membalikkan langkahnya, lalu menghindar. Merly yang saat itu juga kaget bisa ketemu Rama disitu langsung ia mengejarnya dan menggaet tangan Rama.


 "kenapa kamu menghindar Ram?" Merly sedih.
 "sudahlah, aku akui aktingmu bagus. gak usah dites lagi sama aku. mm, sori aku mau pulang dulu." Rama
 "Rammm!" dengan nada agak berteriak. Merly
 "Kenapa lagi?" Rama
 "aku sayang kamu" Merly
 "apa setelah kamu ucap itu, kamu juga langsung jadian sama cowok lain? trus mengumbar kemesraanmu? SUDAHLAH!" Rama mulai panas.
 "maaf, aku salah dulu" Merly menangis.
 "sudah, jangan nangis. wajah cantikmu jadi jelek hlo." mengusap air mata Merly, menenangkannya. Tapi setelah itu Rama langsung pergi.
Merly tak sempat mencegahnya saat itu, karna sedang menangis. Dan akhirnya mereka berpisah lagi.
To Be Continued... 
Lanjutannya disini.

Impian dan Persahabatan

Written By Ramadhan Fnw on Nov 27, 2011 | 7:22 PM

  Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, ketika 2 orang sahabat duduk ditepi danau. Angin sore mengelus lembu kulit mereka. Sinar matahari terbenam menyambut dari balik awan menciptakan silvet yang indah. Inilah saat yang paling mereka senangi. Matahari terbenam.
  Pukul setengah 7 malam. Matahari sudah benar-benar menghilang digantikan oleh sang rembulan. Gina beranjak dari tempat duduknya.
  "Vino, ayo pulang!" Ia mengajak Vino sahabatnya.

  Vino ikut bangkit dan menyusul Gina yang sudah berjalan beberapa langkah darinya.
  "Gina?" Panggil Vino pada Gina, ketika langkah mereka mulai sejajar.
  "Hm?"
  "Kau tahu kita sudah kelas 12 dan tidak sampai sebulan lagi kita akan masuk Universitas?"
  "Aku tahu"
  "Emm.. apa kau sudah memutuskan akan melanjutkan kuliah dimana?"
  "Entahlah, aku belum memikirkannya, lantas bagaimana denganmu?"
  "Jerman" Jawab Vino mantap. "Kau tahu bukan, aku sudah bermimpi menjadi seorang pilot sejak aku kecil"
  "Tidak bisakah kau memberiku jawaban lain selain Jerman?" Kata Gina pelan. Vino tidak mendengarnya.
  Sebenarnya mereka sudah sering membahas ini. Tapi entah mengapa hati Gina terasa berat setiap kali Vino mengatakan pilot dan Jerman. Ada perasaan tidak ikhlas jika Vino benar-benar akan meninggalkannya sendiri. Mereka sudah bersahabat sejak kecil dan mereka sudah melakukan banyak hal bersama-sama. Dan Gina tau semua akan terasa berbeda jika Vino pergi.
  "Cepatlah kau temukan impianmu itu! Kau tidak bisa terus-terusan jadi anak SMA, ingat itu!" Kata Vino ketika mereka sampai di depan rumah Gina. Mereka terkekeh.
  "Jadi kau mendoakan ku tidak lulus, hah?" Kata Gina pura-pura marah.
   "Hahaha... kau pikir aku sejahat itu, hah?! Mana mungkin aku mendoakan hal butuk untuk sahabatku sendiri"
  "Hahaha... Aku tau. Sudahlah, aku mau masuk. Daaa Vino!"
  "Daa Gina!" Kata Vino sambil membuka pagar rumahnya yang bersebrangan dengan rumah Gina.
  Satu bulan berlalu, hari kelulusan pun tiba. Anak-anak kelas 3 SMA Harapan bersorak gembira karena mereka dinyatakan lulus. Begitu pula dengan Vino dan Gina yang kini tengah asyik membubuhkan tanda tangan mereka pada kaos teman-teman mereka.
  Senyum lebar tak pernah lepas dari bibir mereka berdua. Ada rasa bangga dan tidak percaya diri Gina. Bagaimana tidak, gadis yang notabenenya bernilai pas-pasan tiba-tiba lulus dengan hasil memuaskan. Begitu pula dengan Vino yang mendapat nilai nyaris sempurna. Meskipun begitu Gina tidak pernah iri pada Vino yang sejak kecil memang sudah pintar.
  Pukul setengah lima sore. Seperti hari-hari biasa, Gina dan Vino kini sedang asyik duduk dibawah pohon mangga ditepi danau. Menanti saat-saat dimana matahari terbenam.
  "Vin!" Panggil Gina. Tidak seperti biasanya. Biasanya mereka hanya duduk diam hingga matahari terbenam. Tapi kali ini Gina mengajak Vino berbicara.
  Vino menolehkan kepalanya. Ia dapat melihat bagaimana ekspresi wajah sahabatnya saat ini. Sangat serius. Dan ia semakin yakin ketika mata Gina menatap lurus pada matanya.
  "Kenapa?" Vino melemparkan senyum pada Gina.
  "Emm, itu.. E.. apa kau yakin akan pergi ke Jerman?" kata Gina ragu.
  "Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" Kening Vino berkerut. Sebenarnya ia tahu bahwa Gina sebenarnya tidak ingin ia pergi. Tapi ia tidak berbicara apapun karna Gina tidak pernah mengungkapkannya langsung.
  "Jujur sebenarnya aku tidak ingin kau pergi. Aku selalu berharap kau akan memberiku jawaban selain Jerman saat kita membicarakan masa depan"
  Vino tersenyum datar. "Tapi aku sudah memimpikannya sudah lama."
  "Aku tahu. Tapi aku tidak mengerti. Kenapa harus Jerman?" Mata Gina mulai memanas.
  "Jadi kau akan menyuruhku tinggal dan melupakan impianku?" Suara Vino mulai meninggi.
  "Bukan begitu. Aku hanya tidak... Tidak bisakah kau melanjutkannya di Indonesia saja? Bukankah masih banyak Universitas bagus disini?" Suara Gina ikut meninggi. Gina dapat merasakan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.
  "Jadi kau tidak ingin melihatku jadi orang sukses?" Vino menatap mata Gina tajam. "Maaf tapi aku tidak bisa!" Suara Vino melembut. Ia lalu meninggalkan Gina begitu saja di tepi danau. Gina sudah tidak bisa menahan air matanya buliran-buliran air mulai jatuh.
  Ini sudah 2 bulan sejak pertengkaran di tepi danau. Vino dan Gina belum bicara sejak hal itu. Jangankan bicara sms pun mereka jarang. Gina membolak-balikkan majalah remaja yang ada dihadapannya. Ia benar-benar bosan harus menghabiskan waktu sendirian. Ia beranjak dari tempat tidurnya, melangkah menuju jendela kamarnya yang menghadap ke jalan. Matanya menyusuri halaman rumah Vino. Berharap menemukan sosok sahabatnya itu.
  Di tepi danau Vino sedang memainkan ponselnya. Membuka folder foto dan mengamati satu-persatu fotonya dan Gina. Tangannya terhenti menggeser keypad ketika layar ponselnya menampilkan wajah Gina yang tersenyum sendirian.
  "Apa kau tidak merindukan ku?" Gumamnya.
  Vino akhirnya memutuskan untuk mengirim sebuah pesan pada Gina.
  Drrt. Drrt.
  Getaran ponsel membuyarkan lamunan Gina.

  From: Vino
   Besok aku harus berangkat ke Jerman. Bisakah kau menemuiku di Danua sekarang.

  Gina langsung berlari menuju ke Danau. Ia mendapati sosok laki-laki dengan kaos biru dan celana selutut tengah duduk dibawah pohon mangga. Meskipun orang itu memunggunginya tetapi ia tahu siapa dia.
  "Vin!" Panggil Gina.
   Vino menoleh lalu tersenyum. Gina membalas senyuman itu lantas duduk disamping Vino menikmati pemandangan sore yang sudah 2 bulan ini mereka rindukan. Gina menjatuhkan kepalanya diatas bahu Vino.
  "Pergilah! Aku tidak akan menghambatmu" Kata Gina masih menatap lurus pada matahari terbenam.
  Vino menoleh, memperhatikan kepala gadis yang tengah bersandar dibahunya. Ia lalu tersenyum.
  "Segeralah temukan impianmu! Dan berjanjilah kita akan bertemu lagi suatu hari nanti!" Ucapnya.
  Mereka lalu tersenyum bersama-sama. Untuk pertama kalinya, Gina berharap matahari tidak terbenam hari ini. Biarkan tetap seperti ini.
  6 tahun berlalu. Gina sedang membersihkan wajahnya dari make up. Sungguh ia benar-benar merasa lelah hari. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin lalu tersenyum. Entah mengapa hari ini ia benar-benar merindukan sahabatnya. Ini sudah 6 tahun sejak Vino pergi dan selama ini Vino tidak pernah memberikan kabar.
  Drrtt.Drrtt
  Gina merogoh tasnya, mencari ponselnya. Nah ketemu. Ia lalu menekan beberapa tombol untuk membuka kunci ponselnya.
  1 Mesage from 089878888
  "Nomor siapa ini?" Gumamnya
  Klik
  From: 089878888
  Hari ini. Pohon Mangga, Danau, Matahari terbenam

  Gina sedikit terperanjat ketika membaca pesan itu. Ia tahu betul siapa pengirim pesan itu. Ia melirik jam, pukul 17.00. Gina lalu meraih tasnya lalu pergi mencari mobilnya dan melaju dengan kecepatan penuh menuju danau.
  20 menit kemudian ia sampai. Setelah memarkirkan mobilnya ia lantas berlari ketempat yang sudah ia hafali. Pohon mangga. Larinya terhenti setelah sampai beberapa meter sebelum pohon mangga. Ketika ia mendapati sosok Vino yang sedang menunggunya dengan memakai kemeja putih dan celana panjang. Ia tidak dapat menutupi rasa bahagia yang meluap dari dalam dirinya. Ia pun langsung memeluk tubuh Vino. Vino juga membalas pelukan Gina.
  "Kenapa lama sekali, hah? Apa kau tidak merindukanku, hah? Kau tahu, ku pikir kau sudah mati." Ucap Gina. Suaranya agak serak karena ia menangis. Menangis bahagia tentunya.
  Vino melepaskan pelukan Gina. Menatap wajah gadis yang sangat ia rindukan. Ia mengusap air mata Ginda dengan ibu jarinya lalu tersenyum.
  "Jadi sekarang ceritakan padaku bagaimana kau bisa memilih sekolah seni dan menjadi artis drama?" Kata Vino
  "Kau ingat kelas teater ketika masih SMA?"
  "Ya?"
  "Kau ingat aku pernah masuk kelas teater dan menjadi salah satu pemain andalan?  Aku berpikir dari situ dan memutuskan untuk masuk sekolah seni dan menjadi artis drama. Lalu kau?"
  "Aku lulus dengan predikat sangat baik 2 tahun lalu dan aku langsung diterima menjadi pilot di maskapai penerbangan Jerman"
  "Lalu kenapa kau baru pulang. Kau harus tau kalau aku sangat merindukanmu."
  "Hahaha ya, aku tahu. Pilot baru harus bekerja 2 tahun dulu, baru setelah itu ia mendapat libur beberapa bulan."
  "Oooh" Gina hanya ber-oh ria.
  "Ngomong-ngomong, aku sudah melihat drama musikal terbarumu. Ceritanya sangat bagus, tapi aku tidak suka pada bagian drama saat kau memeluk pemain laki" Kata Vino bergurau.
  "Hahaha" Gina tertawa tapi setelah itu tampak kesal pada wajahnya. "Yak! Dasar bodoh! Kenapa kau tidak langsung menemuiku disana saja, hah?!" Gina mengayunkan tasnya ke kepala Vino.
  "Aduh, sakit bodoh!" Vino meringis.
  "Itu pantas untukmu" Kata Gina seraya duduk di bangku yang ada dibelakang mereka.
  "Yang penting kan aku sudah disini." Kata Vino dengan nada menggoda dan Gina hanya tersenyum.
  Vino melangkah duduk disamping Gina. Gina menyambutnya dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Vino.
  Mereka hanya diam setelah itu. Tetapi senyuman tidak pernah lepas dari wajah mereka. Mereka benar-benar menikmati saat-saat itu. Saat ketika langit biru berubah jadi jingga dan jingga itu di gantikan gelapnya malam.

Selesai...

Karya: Ayu Triana

Pasar Malam

Written By Ramadhan Fnw on Nov 24, 2011 | 2:07 PM

  Malam itu, Putri bersama adiknya yang bernama Andi berencana untuk mengajak ibu mereka untuk pergi ke pasar malam yang ada di alun-alun. Ibu pun menyetujui rencana mereka. Putri dan Andi merasa sangat senang. Putri, Andi, dan ibunya berangkat mengendarai sepeda motor.
  Sesampainya di tempat parkir sepeda motor. Andi pun tidak sabar ingin segera naik wahana permainan yang ada di sana. Kemudian Putri mengajak ibunya.
  “Ayo bu, Andi sudah tidak sabar.” tanya Putri.
  “Tidak Put, ibu di sini saja, ibu lelah kalau berjalan-jalan, kalian berdua saja. Ini uang untuk kalian bermain.” jawab ibu.
  “Oh, ya bu, terimakasih.” jawab Putri.
  “Hati-hati ya? Jangan lama-lama!” tanya ibu.
  “Iya, bu?” jawab Putri dan Andi serempak.
  Setelah mereka mulai memasuki pasar malam. Mereka melihat banyak sekali penjual, seperti : penjual baju, makanan, minuman, hamster, bahkan ada yang menjual kerak telur. Putri dan Andi juga melihat beberapa wahana permainan, seperti : komidi putar, biang lala, kora-kora, kereta mini, perahu karet, dan tong setan.
  “Adik, kamu mau naik yang mana?” tanya Putri.
  “Aku ingin bermain perahu karet, Kak?” jawab Andi.
  “Baiklah, kakak beli karcis dulu ya?” tanya Putri.
  “Iya?” jawab Andi.
Setelah Putri membeli karcis, adiknya dapat bermain perahu karet. Putri sangat senang melihat adiknya yang terlihat gembira ketika manaiki perahu karet.
  Karena waktu bermainnya telah habis, Andi pun turun dan melanjutkan jalan-jalan bersama kakaknya.
  “Dik, setelah naik perahu karet, kamu ingin naik apa lagi?” tanya Putri.
  “Adik ingin bermain biang lala, Kak?” jawab Andi.
  “Oh, ya kakak setuju, kakak juga ingin naik biang lala.” jawab Putri.
  Putri dan Andi segera membeli karcis dan mereka pun dapat bermain biang lala. Walaupun kelihantannya biang lala itu menakutkan, tetapi Putri dan Andi sangat menikmatinya.
  “Dik, menyenangkan ya naik permainan ini.” tanya Putri.
  “Iya, Kak, malah adik ingin naik sekali lagi.” jawab Andi.
  “Jangan, lebih baik kita bermain yang lain saja. Kamu ingin bermain apa lagi?” tanya Putri.
  “Kakak ingin bermain apa?” tanya Andi.
  “Kakak ingin bermain kora-kora, karena kakak belum pernah naik yang itu.” jawab Putri sambil menunjuk kora-kora.
  “Jangan itu Kak, aku takut naik yang itu.” jawab Andi.
  “Enggak usah takut, kan cuma seperti ayunan biasa. Enggak papa ya?” tanya Putri.
  “Ya, sudah deh, daripada aku nanti sendirian.” jawab Andi.
  Karena waktu bermain habis, kami pun turun. Kami melanjutkan bermain kora-kora. Pada saat petugas permainan kora-kora mengoperasikan mesinnya. Kami semua mulai berayun ke depan dan ke belakang. Pada saat berayun ke depan tidak begitu menakutkan, tetapi pada saat berayun ke belakang sangat menakutkan, seperti akan terlempar. Perut Putri pun mulai terasa sadikit mual, tetapi ia masih bisa menahannya. Ketika kora-koranya berhenti, Putri bertanya kepada adiknya.
  “Dik, kamu sudah apa belum?” tanya Putri.
  “Kakak sudah apa belum?” tanya Andi.
  “Kalo, kakak masih ingin lagi.” jawab Putri.
  “Ya sudah, aku juga lagi.” jawab Andi.
  Sebenarnya Putri sudah tahu kalau adiknya itu sudah tidak tahan lagi, tapi Putri tetap tidak mempedulikannya. Kemudian kora-kora itu digerakkan kembali, Andi hanya dapat memejamkan mata dan bersandar di bahu Putri, untuk menghilangkan rasa takutnya.
  Setelah kora-kora itu diayun berulang-ulang kali, akhirnya waktu bermain telah habis. Semua yang naik kora-kora pun turun, begitu juga Putri dan Andi. Tetapi Andi turun dan berjalan dengan sempoyongan, raut mukanya nampak pucat , Putri tidak tahan melihat adiknya dalam kondisi seperti itu.
  “Dik, apa kita duduk di situ dulu.” tanya Putri sambil menunjuk salah satu bangku.
  “Tidak usah, Kak?” jawab Andi sambil berbicara dengan suara yang terbata-bata.
Kemudian Putri menuntun adiknya sambil memegangi kedua pundak adiknya itu agar jalannya tidak sempoyongan.
  Setelah sampai di tempat ibunya duduk, Putri menjelaskan kejadian yang mengakibatkan tubuh adiknya itu lemas tak berdaya. Ibunya berkata kepada putri.
  “Bagaimana sih Put, kenapa bisa begini kejadiannya!” tanya ibu.
  “Maaf bu?” jawab Putri.
  “Ya sudah, kita pulang saja, kasihan adikmu.” tanya ibu.
  “Iya, bu?” jawab Putri.
  Sesampainya di rumah, Andi langsung disuruh untuk berbaring di tempat tidur oleh ibunya. Lalu ibunya mengoleskan minyak kayu putih pada tubuh Andi dan Putri memijat kaki dan tangan adiknya itu. Kemudian Putri baru menyadari bahwa ia telah bersalah kepada adiknya, karena ia tidak mempedulikan keadaan adiknya ketika naik kora-kora, ia malah mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri.
  Kemudian Putri berdoa agar adiknya itu dapat sembuh dari sakitnya. Dan beberapa saat kemudian Andi pun sembuh dan Putri merasa sangat senang.

Karya: Pasha Pradipta

Kekhawatiran Seorang Anak

Written By Ramadhan Fnw on Nov 22, 2011 | 4:45 PM

  Suatu pagi yang dingin, matahari baru tampak kepalanya saja. Vero masih terlelap dalam tidurnya, tapi saat alarmnya berbunyi Vero segera bangun, sebelum mandi Vero mengisi nyawanya yang hilang didalam mimpi terlebih dahulu. Setelah mandi, ia segera memakai baju dan menuju rumah sakit. 2 minggu yang lalu ibunya pingsan karena penyakit jantung yang dideritanya, dan setiap sebelum berangkat kesekolah Vero menyempatkan diri untuk menjenguk ibunya yang masih koma sampai sekarang.
  Flashback, Vero Librarysa, ia adalah anak kedua dari 2 bersaudara, ia adalah siswa baru di SMA N 1 Klaten, yang artinya ia baru saja lulus SMP.
  Setelah selesai dengan urusan tubuh, Vero pun menemui ayahnya untuk sarapan pagi, tapi sepertinya Vero ingin segera kerumah sakit.
  “Ayah, vero berangkat sekarang saja ya,” tanya Vero
  “Kenapa pagi-pagi sekali sudah mau berangkat sekolah?” ucap Ayah
  “Seperti biasa ayah, kalau Vero berangkatnya pagi-pagi begini berarti Vero mau menjenguk ibu dulu,” jawab Vero
  “Oiya, tapi nggak sarapan dulu nich?” tanya Ayah sambil mengiris roti untuk sarapan
  “Nggak usah yah, Vero nanti bisa jajan soto dikantin sekolah kok, oya ayah hari ini Vero bawa motor ya?” ucap Vero sambil mengambil kunci motor yang tergelantung dideretan kunci-kunci lainnya
  “Kenapa tidak dianter Pak Kus saja?” tanya Ayah
  “Vero nggak mau ganggu Pak Kus, kasihan Pak Kus tadi malem udah nungguin Vero pulang dari rumah sakit,” jawab Vero
  “Oh, ya udah, tapi hati-hati ya,” ucap Ayah
  “Pasti ayah, ya udah Vero pamit ya, Assalamu’alaikum,” ucap Vero sambil berpamitan dengan ayahnya, dan langsung tancap gas
  “Walaikumsalam,” ucap Ayah
  Disepanjang perjalanan kerumah sakit, Vero berfikir apa yang akan ia katakan sesampainya dirumah sakit. Jarak antara rumah sakit dengan rumahnya cukup jauh, sekitar 2 km. Tapi, jarak antara rumah sakit dengan sekolahnya lumayan dekat, sekitar 500 meter. Vero pun tiba dirumah sakit. Biasanya sebelum masuk, Vero berbincang-bincang dahulu dengan Pak Doni. Beliau adalah satpam dirumah sakit ini.
  “Pagi Pak Doni,” sapa Vero
  “Pagi mbak Vero, tumben pagi-pagi udah sampai?” ucap pak Doni
  “Hehe, seperti biasa pak, Vero mau njenguk ibu dulu, sekalian berangkat sekolah,” ucap Vero
  “Oh, kalau gitu saya titip salam saja buat ibunya Vero, semoga cepat sadar, dan cepat sembuh ya,” ucap Pak Doni
  “Amin, nanti Vero sampaikan ke ibu, ya sudah Pak Vero mau pamit ke ruangan ibu dulu,” ucap Vero
  “Amin, oh iya silahkan,” ucap Pak Doni
  Setelah lama berbincang-bincang dengan Pak Doni, Vero pun berjalan menuju ruangan ibunya. Tak lupa ia menyapa para suster yang lewat, mengenalnya ataupun tak mengenalnya. Karena itu ibunya mengajarinya untuk selalu ramah dengan siapapun, walau mereka tak kita kenal.
  “Assalamu’alaikum,” ucap Vero sambil membuka pintu ruangan
  “Walaikumsalam, tumben pagi-pagi udah kesini ver?” tanya Kak Renata
  “Hehe, seperti biasa, Vero mau njenguk ibu dulu, sekalian berangkat sekolah,” ucap Vero
  “Ealah,” ucap Kak Renata
  Sejak ibu vero sakit, Kak Renata lah yang menemani ibu di rumah sakit ini. Walau pun ia harus meminta cuti kuliah kepada dosen sampai ibunya sembuh.
  Flashback, Kak Renata atau Aquariusia Renata, ia adalah mahasiswi di Universitas Indonesia, sekaligus ia adalah kakak Vero.
  “Assalamu’alaikum bu, ini Vero,” ucap Vero kepada ibunya yang masih memejamkan matanya itu
  “Vero, kakak mau keluar sebentar, kakak mau beli sarapan buat kita, kamu juga pasti belum makan kan?” ucap Kak Renata
  “Hehe, tau aja kalau Vero belum sarapan, tapi nggak usah kak, vero nanti beli soto dikantin sekolah saja,” ucap Vero
  “Oh, ya sudah, gantiin kakak sebentar ya, kakak mau beli sarapan dulu,” ucap Kak Renata
  “Oke kakakku,” ucap Vero
  Sambil menunggu kak Renata kembali dari beli sarapan, Vero mengambil Alqur’an, Vero pun mulai mengaji dan berdoa di dekat ibunya, berharap allah akan menyadarkan ibunya itu.
Saat kak Renata kembali ke ruangan, Vero langsung menutup Alqur’annya dan mengusap air mata yang keluar, agar tak dilihat oleh kakaknya itu.
  “Eh kakak udah pulang, oya kak udah jam 6, Vero mau berangkat sekolah dulu ya,” ucap Vero sambil pamit dengan kakaknya itu
  “Oh iya, ini makanan ringan untuk dimakan disekolah nanti, kakak taruh ditasmu ya,” ucap Kak Renata sambil memasukan snack yang ia beli ke dalam tas Vero
  “Assalamu’aliakum kak,” ucap Vero sambil berjalan pergi
  “Walaikumsalam,” ucap Kak Renata
  Setelah berpamitan dengan kakaknya, Vero langsung pergi menuju parkir motor dan berangkat sekolah. Disela-sela perjalanan, tiba-tiba HP Vero berbunyi, dengan sekejap ia menepi ke pinggir jalan. Ternyata telpon itu dari kakaknya.
  “Assalamu’alaikum kak, ada apa? Apa ada barangku yang ketinggal?” tanya Vero
  “Walaikumsalam, nggak barangmu nggak ada yang ketinggalan kog,” ucap Kak Renata
  “Oh, lalu ada apa?” tanya Vero
  “I….B….U… V…E…R…O… ,”ucap Kak Renata tersendat-sendat, karena menahan tangis
  “IBU? ADA APA DENGAN IBU KAK?”teriak Vero
  “Ibu… kritis… ver… ,”ucap Kak Renata
  “Apa? Ibu sekarang dibawa kemana kak, Vero akan segera kesana,” ucap Vero panic
  “Ke UGD Ver, tapi bagaimana sekolahmu,” ucap Kak Renata
  Setelah, tau ibunya dibawa ke UGD, Vero langsung mengendarai motornya menuju ke rumah sakit, tanpa menjawab pertanyaan Kak Renata. Vero mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, tapi masih di batasi, karena ia takut tertangkap oleh polisi.
  Sesampainya di rumah sakit, ia menggeletakan begitu saja motornya, ocehan pak parkir tak ia hiraukan, ia langsung ke pos satpam untuk bertanya dimana ruang UGD berada. Setelah tau tempatnya, ia langsung berlari secepat yang ia mampu, sampai di UGD ia mencari sosok kakaknya diantara orang-orang disekelilingnya itu.
  “KETEMU,” ucap Vero saat menemukan kakaknya berada. Ternyata ayahnya juga ada disana
  “Kak... ibu… gimana..?” ucap Vero dengan nafas yang ngos-ngosan setelah berlari kesana kemari
  “Normalkan nafasmu dulu Vero,” ucap Kak Renata
  “Huh, sudah,” ucap Vero
  “Ibu masih kritis, sekarang ibu ada didalam, dokter beserta timnya sedang berusaha didalam,” ucap Kak Renata
  “Vero harus masuk kedalam, Vero mau menemani ibu didalam,” ucap Vero, berusaha masuk ke ruang UGD tapi ditahan oleh ayahnya
  “Sabar Vero, serahkan semuanya pada dokter,” ucap Ayah
  “Hmm,” ucap Vero, sudah sedikit tenang

  Vero, Kak Renata, dan Ayah hanya bisa menunggu dan menunggu, dokter keluar dari ruang UGD tersebut. Vero mulai mengantuk, vero melihat jam diHPnya, jam 9 malam, tapi dokter belum juga keluar dari ruang UGD itu. Tanpa sadar, Vero ketiduran, ia tidur dipangkuan kakaknya. Sementara ayahnya sedang pergi sebentar untuk membeli makanan.
  Jam 11 malam, orang yang ditunggu-tunggu oleh Vero, Kak Renata, dan Ayah pun keluar dari ruang UGD. Kak Renata pun langsung membangunkan Vero. Vero terkejut dengan keberadaan dokter, dengan sigap Vero langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
  “Dok, bagaimana keadaan ibu dok?” ucap Vero khawatir sekalgus panik
  “Maafkan kami, kami telah berusaha semaksimal mungkin,” ucap dokter
  “Maksud dokter, ibu meninggal?” ucap Vero tegas
Dokter mengangguk pasti, bahwa ibu Vero telah tiada.
  “Nggak mungkin, ini pasti hanya mimpi,” ucap Vero
  “Vero, kita harus ikhlas,” ucap ayah menenangkan Vero
  “Nggak mungkin, nggak mungkin, IBUUUUU,” teriak Vero dengan keras, sampai-sampai Vero sempat terjatuh karena kelelahan.
  Keesokan harinya, diadakan pemakaman di rumah. Pemakaman itu, dihadiri keluarga besar, dan warga-warga sekitar, bahkan teman satu kelas Vero, dan teman satu kampus Kak Renata.
  Setelah acara pemakaman selesai. Para tamu telah pulang, tapi tidak dengan Vero. Ia masih duduk dimakam ibunya, mengusap-mengusap papan nama yang bertuliskan nama ibunya itu, disana ia ditemani oleh Kak Renata. Sesekali Kak Renata memeluk Vero. Sedangkan Vero, Vero masih tidak percaya bahwa ibunya meninggalkannya dengan cepat. Menurutnya, ibunya itu adalah sosok yang sangat ia idolakan, ia baik, ramah dengan siapapun, bertanggung jawab, bijaksana.

Karya: Imastuti D.N

Selamat jalan Sahabat

Written By Ramadhan Fnw on Nov 18, 2011 | 4:15 PM

  Tingkah Sandy Minggu ini berubah. Ia lebih memilih sendiri disaat teman-teman sedang asyiknya berkumpul. Pernah aku melihat Sandy di sudut kantin sendirian, ia seperti sedang menahan sakit dengan memegangi perutnya bagian ginjal. Aku yang penasaran langsung menghampiri sahabatku itu.
  “Kamu kenapa San? Sakit?” Tanyaku.
  “Gak apa-apa kok Feb, tenang aja” Jawabnya meringis menahan sakit.
  “Hmm, ya sudah, ayo ikut kumpul bareng temen-temen, seru!” ajakku
  “Kamu duluan deh, aku lagi pengen sendiri” Jawab Sandy
  “Oke deh” Aku menjawab sembari menjauh. Tapi tetap penasaran dengan keadaannya.

  Seminggu kemudian setelah kejadian itu, aku jarang melihat dan mendengar kabarnya lagi. Kami memang berbeda sekolah, namun biasanya saat istirahat atau sepulang sekolah aku sering berjumpa dengannya. Dengan penasaran, aku coba tanya ke teman sekelasnya yang kebetulan aku kenal.
  “Do, Sandy kok gak pernah keliatan ya?” Tanya ku kepada Aldo, teman sekelas Sandy.
  “Dia gak masuk Feb, sakit. Tapi aku gak tau sakit apa?” Jawab Aldo.
  “Gak masuk seminggu?” Tanyaku keheranan.
  “Iya”. Jawab Aldo lagi.
  “Oh, ya sudah, makasih Do”. Aku mengakhiri pertanyaanku.
  “Oke, sama-sama”. Jawab Aldo sembari ia pergi ke kantin.
Aku pun sedikit lega, mengetahui alasan Sandy tidak masuk. Tapi yang membuatku bingung, ia sakit apa?, dan kenapa lama sekali? Mulai terpikir olehku untuk menjenguknya.

  Hanya beberapa jam setelah pulang sekolah, aku sudah ada di Rumah Sakit tempat Sandy di rawat. Aku pun segera mencari kamar Sandy. Setelah menemukannya, aku melihat kedalam dan yang ada hanya Sandy yang terbaring lemah dengan ditemani ibunya.
  “Assalamu’alaikum!” Salamku.
  “Walaikumsalam, eh nak Febri, mari masuk” Jawab Ibu Sandy.
  “Iya tante” Jawabku, dan aku pun langsung duduk disamping ranjang Sandy.
  “Sandy sakit apa tante? Kenapa lama sekali gak masuknya?” Tanyaku penuh bingung.
  “Sandy sakit ginjal stadium 3 nak, sudah parah” Jawab ibu Shandy dengan mengeluarkan airmata.
Terkejut aku mendengar Sandy yang ternyata sedang berjuang melawan sakitnya. Namun mengapa Sandy tak bilang kalau ia punya penyakit ginjal?.

  Setelah lama berbincang sekaligus menjenguk Sandy. Aku pun pamit pulang dengan meninggalkan bingkisan untuknya. Esoknya aku datang menjenguk lagi. Namun saat sampai di depan kamarnya, aku tidak melihat ada Sandy maupun seseorang didalam.
  “Suster, pasien yang dikamar ini kemana ya?” Tanyaku pada seorang suster.
  “Oh, dia sudah pergi dek” Jawab suster, lalu pergi.
  “Pergi?” Batinku. Aku bingung dengan ucapan suster tadi.

  Aku segera berlari menuju rumahnya Sandy. Untung aku hafal jalan kesana. Terkejut aku melihat ada bendera kuning di sekitar desa tempat rumah Sandy ada. Ku percepat langkahku dan sekali lagi aku terkejut melihat keramaian didepan rumahnya.
  “Pak, bapak mau kesana ya? Ada apa sih disana pak?” Tanyaku pada seorang bapak yang kebetulan lewat.
  “Oh, disana ada kabar duka dek. Nak Sandy meninggal dunia. Kamu temannya ya?” Jawabnya.
Deg,,, Jantungku seakan berhenti, air mata ku pun ikut keluar dari tempatnya. Aku hanya mengangguk, tak kuat lagi rasanya untuk bicara.

  Tetes-tetes air mata yang hampir jatuh ku usap dengan tangan. Teringat sebelum kepergiannya, Sandy dan aku kerap bersama. Dimanapun itu kami selalu bersama. Dia ada untuk menghiburku. Aku pun berusaha tidak sedih dihadapannya. Aku terbangun dari lamunanku. Ketika rombongan orang mengantar Sandy ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Aku pun turut serta, mengantar kepergian Sahabat terbaikku itu.
  “Selamat jalan sahabat, aku disini hanya bisa berDo’a, semoga kau tenang disana, kenangan kita masih kusimpan, aku akan selalu ingat kamu” Batinku berkata.
Tanah pun sudah mulai mengubur sahabatku itu….

Karya: Ramadhan Fnw

Persembahan Terakhir Velix

  Velix merasa bosan dengan hidupnya yang dipenuhi dengan keinginan orang tuanya.Velix adalah anak yang cerdas,tampan,dan keren.Tapi sayangnya dia adalah orang yang penyakitan .Dia menderita penyakit kanker yang akut.Dia merasa selalu sendiri,dia tidak pernah diperbolehkan orang tua nya untuk bermain dengan teman-teman nya.Velix hanya diperbolehkan pergi jika ada tugas dari sekolah saja.

  Suatu hari Velix diajukan sekolah untuk mengikuti lomba Sains dan Iptek tingkat Nasional.Dia dengan antusias mengikuti lomba itu ,lomba itu akan diadakan sekitar 1 bulan kedepan.Saat dalam mas karantina dan pembinaan ,penyakit kanker itu pun datang untuk menunjukan kegnasannya .Saat itu kepala velix mengalami pusing yang sangat hebat.

  Seketika orang tuanya pun membawa dia ke rumah sakit terbaik dan mempunyai alat tercanggih.Pada saat selesai diperiksa ,dokter memanggil orang tua velix….

  Dokter:”maaf bu,pak.penyakit kanker yang menyerang anak ibu dan bapaksudah memasuki stadium 4,sel-sel kankernya sangat ganas.Dan mungkin umur anak anda sudah tidak akan lama lagi.”Sekejap suasana pun menjadi sedih,ibu velix tidak kuat menerima kenyataan itu.

  Saat velix sadar,dia sudah mempunyai feeling yang buruk tentang penyakit yang dideritanya.Saat velix bangun ia langsung bertanya kepada ibunya …..

  Velix:”Bu,apa kata dokter?”.ibunya velix binggung harus berkata apa .Velix:”Bu,apa kata dokter?Jujur saja!”Ibunya velix terpaksa harus berkata jujur ,karena tidak tega melihat velix …Ibu:”Nak,kamu harus tabah ya…!penyakitmu sudah memasuki stadium 4…seketika velix langsung drop mendengar berita itu.

  Setelah mendapatkan perawatan kurang lebih 3 hari.Velix pun kembali ke tempat karantina .Sesungguhnya perasaan velix sangatlah sedih ,tapi selama di karantina dia tidak memperlihatkan kesedihannya itu.Karena dia tidak mau melihat orang yang di sayanginya sedih..

  Lomba pun akan dimulai esok hari.Saat malam sebelum lomba ,velix menyendiri di taman.Dia berbisik kecil..velix:”Tuhan ,apakah aku ini sudah berbakti kepada orang tuaku?”Apakah aku sudah tidak berguna lagi,sehingga engkau ingin mengambilku secepat ini?”….”Ya tuhan aku mohon buatlah orang tuaku bangga kepada sebelum aku menghadapmu.”

  Keesokan harinya lomba pun dimulai,velix dan rombongan pun segera menempati tempat lomba.Lomba itu hanya berlangsung selama satu hari saja.Lomba Sains dan Iptek kali ini dilaksanakan dengan prosedur peserta mengerjakan sekitar 150 soal dengan waktu 2 jam yang tingkatannya sangat tinggi.Pada saat mengikuti lomba,Velix tidak tegang dan dia sangat enjoy mengikuti lomba itu.

  Soal pertama dikerjakan velix dengan cepat.Setelah sekitar 25 menit velix sudah menyelesaikan 50 soal,dan sekitar 1jam 45 menit velix sudah menyelesaikan 150 soal .Setelah itu velix menyerahkan pekerjaannya kepada panitia ,lalu dia keluar dari ruangannya.

  Peserta diharap menunggu sekitar 1 jam untuk mendapatkan hasil lomba.Saat dalam menunggu pengoreksian jawaban,velix dan rombongan nya dipersilahkan makan.Saat acara makan –makan velix merasa sakit dikepalanya yang amatsangat menyiksanya.

  Saat itu velix langsung meminta ijin untuk ke kamar mandi.Velix tidak pernah mau merepotkan orang lain karena penyakitnya.Velix menggumam di kamar mandi:”Ya tuhan,jika engkau ingin aku menghadapmu sekarang,ambil nyawaku disini sekarang tuhan.Aku tidak ingin merepotkan orang lain disekitarku karena penyakitku ini.

  Saat velix bergelut dengan penyakitnya di kamar mandi.Pada saat bersamaan hasil lomba pun keluar.Pak Kardi sebagai pembimbing velix penasaran siapa yang menjadi pemenang tahun ini.Dan ternyata yang menjadi pemegang juara 1 pada tahun ini adalah Velix Michael.

  Bu Kissda pun berlari mencari Velix ke kamar mandi,karena tadi velix meminta ijin ke kamar mandi.Saat Pak Kardi membuka pintu kamar mandi velix sudah tergeletak tak bernyawa.

  Dan akhirnya permintaan terakhir velix kepada tuhan pun terkabul,yaitu membuat orang tua nya bangga kepada velix sebelum dia meninggal.

Karya: Crusita Sari.

Ninja Saga

More on this category »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Share Our Knowledge - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger