ads
Home » » Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Written By Ramadhan Fnw on Feb 5, 2012 | 6:18 AM

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW - Maulid Nabi atau Maulud adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, dimana di Negara Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad di ambil dari bahasa bahasa Arab yang artinya hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Seperti yang tercatat wikipedia; sejarah awal mula perayaan maulud nabi Muhammad SAW diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuan Maulud Nabi adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.

Sejarah Awal Mula Maulid Nabi
Pertama kali yang mengada-adakan hari-hari raya dan perayaan-perayaan secara umumnya Maulid-maulid secara khususnya adalah Ubaidiyyun, sebagaimana disebutkan oleh Al Maqrizi dalam kitabnya “ Al-Mawa’idz Wal I’tibar Bidzikril Khuthath Wal Aatsar “ secara nasnya:
(dahulu para khalifah Bani Fathimiyyun sepanjang tahunnya memiliki hari-hari raya dan musim-musim yaitu: musim permulaan tahun, hari Asyura, dan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan mauled Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, dan mauled Hasan dan Husin radhiallahu anhuma, dan mauled Fathimah Az-Zahra radhiallahu anha, dan maulid khalifah Al hadhir, malam pertama Rajab, malam pertengahan Rajab, malam pertama Sya’ban, malam pertengahan Sya’ban, musim malam Ramadhan, awal Ramadhan, Pertengahan Ramadhan, akhir Ramadhan …)

Dan Al-Maqrizi menyebutkan sebagian yang dilakukan pada perayaan-perayaan dan hari-hari raya khususnya enam maulid. Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’ie Mantan Mufti Mesir menyebutkan dalam kitabnya: (Ahsanul Kalam Fiima Yata’allaqu bissunnah wal bid’ah minal Ahkam ): bahwa pertama kali yang mengada-adakan enam perayaan maulid tersebut yakni: Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam, maulid Ali, Fathimah, Hasan, Husain radhiallahu anhum, dan maulid Khalifah Al-Hadzir yaitu Al-Mu’izzu Lidinillah dan itu pada tahun 362 H. dan bahwa perayaan-perayaan ini berlangsung hingga dibatalkan oleh Al-Afdzal bin Amirul Jaisy setelah itu.

Siapakah Bani Ubaidiyyun ?
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitabnya “ Al-Bidayah Wannihayah”:
(Raja Bani Fathimiyyun telah berkuasa selama 280 tahun. Yang pertama berkuasa adalah Al-Mahdi yang merupakan orang yahudi, lalu masuk kenegeri Maroko dan menggunakan nama Ubaidillah, dan mengaku sebagai keturunan ‘Alawi Fathimiy, dan mengatakan tentang dirinya: bahwa dia Al-Mahdi, yang mana dakwaan pendusta ini didukung oleh orang-orang yang jahil, sehingga mereka memiliki Negara dan kekuatan, dan mendirikan sebuah kota yang diberi nama Al-Mahdiyah dinisbatkan kepadanya, dan dia menjadi raja yang ditaati.

Kemudian diteruskan oleh anaknya Al-Qoim Muhammad, kemudian anaknya Al-Manshur Ismail, kemudian anaknya Al-Mu’izzu Ma’din, dialah pertama dari mereka yang memasuki negeri Mesir, dan dibangun untuknya Kairo Al-Mu’izziyah dan istana-istana kemudian anaknya Al-Aziz Nazzar, kemudian anaknya Al-hakim Manshur, kemudian anaknya Ath-Thahir Ali, kemudian anaknya Al-Mushtansir Ma’din, kemudian anaknya Al-Musta’li Ahmad, kemudian anaknya Al-Amir Manshur, kemudian anak pamannya Al-Hafidz Abdul Majid, kemudian anaknya Adh-Dhafir Ismail, kemudian Al-Faiz Isa, kemudian anak pamannya Al-‘Adzid Abdullah, yang terakhir dari mereka, yang seluruhnya 14 raja selama 280 tahunan.

Dahulu Bani Fathimiyyun merupakan khalifah yang terkaya, terkejam dan paling dholim, yang paling bejat sejarahnya, muncul dimasa mereka kebid’ahan dan kemungkaran, dan banyak pelaku kerusakan sedikit disisi mereka orang-orang shalih dari para ulama dan ahli ibadah, dan banyak tersebar dinegeri syam agama Kristen, Durruziyah, dan Hasyisyiyah..).

Inilah sekilas dari sejarah mereka supaya mereka yang menghidupkan perayaan Maulid dan lainnya siapakah tauladan mereka dalam perkara ini sehingga mereka mengikuti petunjuk dan menyerupai mereka. Sehingga tidak masuk akal apabila para salafush sholih tidak mengenal hal ini lalu mereka mengikuti para Ubaidiyyun yang sesat !!

Sultan Irbil dan perayaan Maulid:
Dahulu di Mosul ada ahli zuhud yaitu Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla (dahulu dia memiliki satu ruangan yang selalu didatanginya, dan setiap tahunnya dibulan Maulid ada undangan yang didatangi oleh para raja, pemerintah, para ulama, menteri dan mereka merayakan hal itu)
Abu Syamah berkata dalam kitabnya: “ Al-Ba’its ‘alaa inkaril Bida’I wal hawadits” ketika membahas tentang maulid nabi: (pertama kali yang melakukannya di Mosul Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla seorang yang shalih yang masyhur yang diikuti kemudian oleh Sultan Irbil dan yang lain semoga Allah merahmati mereka).

Dan Sultan Irbil disini adalah Al-Mudzaffar Abu Sa’id Kukburi bin Zaidud diin Ali bin Tabaktakin Sultan Irbil yang wafat tahun (630 H) yang paling terkenal dalam merayakan Maulid Nabi secara berlebihan setelah Ubaidiyyun, dimana dia merayakannya dengan mewah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam sejarahnya, beliau berkata: (berkata As Sabth: telah dihikayatkan oleh sebagian yang menghadiri perayaan Mudzaffar dalam maulid dimana dia menyajikan 5000 kepala bakar, 10000 ayam, dan 100000 susu kering, dan 30000 piring kue manis… dia berkata: diantara yang menghadirinya dalam pesta maulid para ulama, ahli sufi, dan memperdengarkan nyanyian sufi dari dhuhur hingga subuh dan dia ikut menari bersama mereka…).
Dari sini menjadi jelas bahwa perayaan maulid dan semacamnya termasuk kebid’ahan Ubaidiyyun, kemudian diikuti oleh para ahli zuhud dan raja, dan ikuti oleh orang awwam, sebagaimana kita tahu bahwa ini bertentangan dengan nas-nas syarie dan amalan para salafush shalih yang mulia.

Walaupun sebagaimana dikatakan bahwa peringatan ini diperbolehkan oleh sebagian ulama seperti Imam Subki, Suyuthi, atau Ibnu Hajar dan pernah dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, meskipun kita menghargai jasa para ulama besar tersebut bagi kejayaan islam dan kaum muslimin, namun ketika hal itu bertentangan dengan syariat, maka kita lebih mendahulukan kecintaan kepada Allah dan RasulNya shallallahu alaihi wasallam, apalagi diantara ulama yang sekaliber merekapun ada yang menolaknya, jadi kita menolak perayaan ini bukan dengan pendapat kita sendiri.

Seandainya hal tersebut adalah baik, maka pastilah para salafus sholih sudah melaksanakannya, karena mereka ada suri tauladan terbaik dalam kesungguhan melaksanakan ajaran yang baik karena Allah Ta’alaa berfirman yang artinya:
“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau Sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului Kami (beriman) kepadanya”. [ Al-Ahqaf: 11].

Ibnu Katsir dalam menafisrkan ayat ini berkata: adapun Ahli Sunah Wal Jamaah mereka mengatakan tentang setiap perbuatan atau perkataan yang tidak penah dipastikan dari para sahabat: adalah bid’ah karena seandainya hal itu baik tentulah mereka telah mendahului kita dalam hal itu mereka tidak pernah meninggalkan satu perbuatan baik pun kecuali mereka segera mengamalkannya. Tafsir Ibnu Katsir juz 7 hal 278.

sumber: http://awalmula.com/sejarah-awal-mula-maulud-nabi-muhammad-saw.html

4.5
Share this article :

13 komentar:

Simple Semua said...

mampir jaa

RzaaL 1306 said...

Mantap lah pokoknya

Cirebon-Cyber4rt said...

nice info sob :)

Yuki d'Garnette said...

begitu toh sejarahnya.. nice share sob ^_^

IT-Soft Center said...

wooww...mantab neh :)

Prozonas said...

Lalu bagaimana Kesimpulannya Sobat. Apakah Maulid adalah perbuatan bid'ah sehingga harus kita hindari?

muhammad ridwan said...

makasih dah berbagi ....

Dwi Yulianto said...

cerita Nabi Muhammad menggelegar di hati:)

wasihin cah purbalingga (Situs Indo Blog) said...

nice post. di tunggu follbacknya- @ wasihin-pbg.blogspot.com

AreL said...

Nice post Sob...

Sob, pasank link saya yg lain y...
doktercinta.net dan technopreviews.com

link sobat juga udah saya pasang di homepage.

ditunggu Sob..

Salam blogger.

Indo seven™ said...

wah, bermanfaat kali gan
tambah wawasan saya :)

sutrisno said...

MARI KITA PERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW SETIAP HARI SENIN, BUKAN BULAN ATAU TAHUN, BAGAIMANA?

Abû Qatâdah al-Anshârî meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya mengenai puasa di hari Senin. Beliau kemudian menjawab, “Hari itu adalah hari saya dilahirkan dan hari saya menerima wahyu. Aha, itu berarti hari ulang tahun boleh diperingati. Tentu saja bukan dengan cara dirayakan atau dipestakan. Nabi tidak mencontohkan begitu. Yang Nabi lakukan hanyalah mengenang sejarah: hari kelahiran dan hari penerimaan wahyu, dengan cara berpuasa.

Mengenang hari kelahiran adalah sebuah pertanyaan tentang eksistensi, untuk apa saya ada? Apa yang sudah saya lakukan sampai hari ini? Apa yang akan saya lakukan pada hari-hari ke depan? Nabi sendiri mengkaitkan antara kenangan terhadap hari kelahiran dan kenangan saat menerima wahyu. Sebuah upaya untuk mengingatkan diri pada misi kehidupan yang diemban, bahwa ia dilahirkan bukan sebagai manusia biasa, tetapi sebagai manusia yang menerima wahyu yang harus disampaikan kepada seluruh manusia. Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiyaa’ [21] ayat 107). Dari kata arsalnaaka ‘Kami mengutus kamu’ kita memahami bahwa Nabi mengemban sebuah Risalah yang harus disampaikan kepada seluruh manusia agar kehidupan semesta alam ini menjadi kehidupan yang dirahmati Allah. Sebuah misi yang teramat berat, karena itu Nabi berasa perlu memperingatinya setiap hari senin, bukan bulan atau tahun.

Lalu, mengapa kita, yang mengaku cinta kepada Nabi, hanya memperingati hari kelahirannya setiap tahun saja. Kenapa tidak setiap hari senin seperti yang Nabi lakukan? Jadi, ada baiknya kita memperingati maulid Nabi Muhammad saw setiap hari senin secara berkelanjutan. Hari itu kita kenang tidak sebatas hari kelahiran Nabi Muhammad saw aja, tetapi juga hari penerimaan wahyu. Rangkaian kegiatannya bisa diisi dengan: puasa sunnah, buka puasa bersama sambil melantunkan shalawat, mengkaji wahyu ilahi, dan mempelajari sejarah kehidupan Nabi.

Dengan begitu, barangkali kita tidak perlu lagi larut dalam perdebatan merebut klaim sah atau tidak sahnya peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Yang kita lakukan, sebagaimana Nabi sendiri lakukan, adalah mengenang hari kelahiran seorang Nabi terakhir pengemban risalah Islam. Kenangan yang dilakukan dalam kerangka evaluasi dan edukasi untuk memperbaiki hari ini dan menata hari esok. Sudah sejauh mana Risalah Islam tersebar sebagai rahmat dalam kehidupan seluruh manusia? Atau jangan-jangan, kita sendiri belum termasuk ke dalam kelompok manusia yang mendapatkan rahmat? Apakah ada persyaratan yang harus kita penuhi agar kita sukses menjadi manusia penuh rahmat , dan oleh karenanya kita mampu menebar rahmat dalam kehidupan sesama?

Ramadhan Fnw said...

@Prozonas klo itu saya juga belom paham, maaf. :)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Share Our Knowledge - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger